-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Putra Batang Hari Dipercaya Pimpin Remaja Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

| Selasa, September 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-15T11:45:06Z


BANDA ACEH, batangharipedia.com — Kabar membanggakan datang dari tanah rantau. Seorang putra Kabupaten Batang Hari, Jambi, dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Remaja Masjid Raya Baiturrahman (RMRB) Banda Aceh periode 2026–2027.


Ia adalah Miftahuddin, putra asli Kelurahan Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batang Hari. Berangkat dari lingkungan pesantren di Muara Bulian dan melanjutkan pendidikan tinggi di Aceh, Miftahuddin kini dipercaya memimpin organisasi kepemudaan yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan generasi muda Islam di salah satu masjid paling bersejarah di Aceh.


Amanah tersebut resmi diterimanya dalam Pelantikan Pengurus RMRB periode 2026–2027 sekaligus Milad ke-42 RMRB, yang berlangsung di Aula Anjong Mon Mata, Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu malam, 12 September 2026.


Prosesi pelantikan dilakukan oleh Kepala UPTD Pengelola Masjid Raya Baiturrahman, Aprilizar, SE, MM.


Momentum tersebut tidak sekadar menjadi penanda pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, pelantikan menjadi ruang silaturahmi lintas generasi yang mempertemukan pembina, alumni, tokoh agama, unsur pemerintahan, serta komunitas remaja masjid.


Nuansa khas Aceh juga begitu terasa. Prosesi pelantikan turut diwarnai peusijuek adat Aceh, sementara rangkaian Milad ke-42 dimeriahkan berbagai penampilan seni dan budaya, di antaranya Rapai Geleng, tari Saman, serta drama sejarah Masjid Raya Baiturrahman.


RMRB telah hadir selama 42 tahun, sejak didirikan pada 12 September 1984. Dalam perjalanan panjang tersebut, organisasi ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk belajar berdakwah, berorganisasi, melayani jamaah, sekaligus mengambil peran dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.


Memasuki usia ke-42, perjalanan panjang RMRB turut mendapat apresiasi dari Pemerintah Aceh. Gubernur Aceh Muzakir Manaf, melalui Staf Ahli Gubernur Bidang Keistimewaan Aceh, Dr. Husnan, ST, MP, menekankan pentingnya RMRB sebagai wadah regenerasi generasi muda Islam.


RMRB diharapkan tidak berhenti sebagai wadah kegiatan keagamaan semata. Organisasi tersebut juga diharapkan mampu menjadi ruang pembinaan karakter, pengembangan ilmu, kreativitas, kepemimpinan, serta potensi generasi muda.


Di tengah perkembangan teknologi, pemuda masjid juga didorong untuk mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah, edukasi, dan penyebaran nilai-nilai positif.


Perjalanan Miftahuddin menuju amanah tersebut tidak berlangsung secara instan. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Zulhijjah, Muara Bulian, sebelum melanjutkan pendidikan tinggi di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.


Di Aceh, ia aktif mengambil bagian dalam berbagai kegiatan RMRB. Sebelum dipercaya sebagai Ketua Umum, Miftahuddin pernah mengemban amanah sebagai Kepala Departemen Kesekretariatan RMRB dan Wakil Bendahara Umum II RMRB.


Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang mengantarkannya dipercaya memimpin organisasi tersebut.


Bagi Miftahuddin, amanah sebagai Ketua Umum RMRB bukan semata-mata sebuah jabatan, melainkan tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu sekaligus memberikan manfaat bagi generasi muda.


“Bagi saya, ini bukan sekadar tentang jabatan. Ini adalah amanah untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu dan memberikan manfaat bagi generasi muda. Sebagai putra Batang Hari yang menuntut ilmu di Aceh, saya juga ingin membawa nama baik daerah asal saya melalui pengabdian,” ujar Miftahuddin.


Miftahuddin juga menegaskan bahwa RMRB bukan milik satu generasi. Menurutnya, organisasi tersebut merupakan rumah bersama yang keberlanjutan perjuangannya harus terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.


Ia berharap kepengurusan RMRB periode 2026–2027 mampu menjaga ukhuwah, menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta menghadirkan berbagai program yang memberikan manfaat bagi masjid, jamaah, masyarakat, dan generasi muda.


Kepercayaan yang diterima Miftahuddin menjadi gambaran bahwa putra daerah Batang Hari mampu mengambil peran dan mendapat kepercayaan di luar daerah.


Perjalanan itu dimulai dari lingkungan pendidikan pesantren di Zulhijjah, Muara Bulian, kemudian berlanjut ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Kini, Miftahuddin berdiri di tengah ruang pengabdian yang lebih luas dengan mengemban amanah memimpin organisasi yang telah menemani perjalanan generasi muda Islam Aceh selama lebih dari empat dekade.


Bagi Miftahuddin, jauhnya jarak antara Batanghari dan Aceh bukan alasan untuk melupakan tanah kelahiran. Sebaliknya, tanah rantau menjadi ruang untuk membawa nilai-nilai yang telah diperoleh sejak dari kampung halaman, kemudian mengembangkannya melalui pengalaman, pendidikan, organisasi, dan pengabdian.


“Ke mana pun kita pergi untuk belajar dan berproses, daerah asal tetap menjadi bagian dari diri kita. Saya berharap perjalanan ini bisa menjadi motivasi bagi anak-anak muda Batang Hari bahwa kesempatan untuk belajar, memimpin, dan berkontribusi selalu terbuka, bahkan ketika kita berada jauh dari daerah sendiri,” tuturnya.


Kini, amanah sebagai Ketua Umum RMRB menjadi babak baru dalam perjalanan Miftahuddin. Dengan bekal pendidikan pesantren, pengalaman organisasi, serta semangat sebagai mahasiswa dan putra daerah, ia diharapkan mampu membawa RMRB semakin dekat dengan generasi muda.


Di saat yang sama, kiprahnya di tanah rencong menjadi cerita tersendiri bagi Batang Hari—bahwa anak-anak muda dari daerah tidak harus berada di kampung halaman untuk membawa nama daerahnya.


Dari Muara Bulian menuju Banda Aceh, Miftahuddin membawa satu pesan sederhana: belajar sejauh mungkin, berproses sebanyak mungkin, dan ketika dipercaya, berikan manfaat sebesar mungkin.




red

×
Berita Terbaru Update